Semua akan Menjadi Bigot pada Waktunya

Pernah mendengar kata bigot? Rasanya dalam lima tahun terakhir saya sering sekali mendengar kata-kata ‘bigot’. Biasanya kata tersebut dilekatkan pada mereka yang terlalu ngotot membela keyakinan (ya, maksudnya agama) mereka dan tidak toleran pada orang lain dengan pandangan berbeda.

Dari sisi bahasa, bigotry sendiri memang sejak awal ditujukan pada mereka yang beragama dengan ngotot berlebihan dan merasa keyakinannya paling benar sedunia. Mending kalau hanya ngotot dan yakin sendiri. Ini ketambahan suka menyalah-nyalahkan, merendahkan, dan menyerang orang yang berbeda pandangan atau sikap.

Akhir-akhir ini penggunaan kata bigot semakin luas, tidak hanya soal keagamaan saja. Sekarang, mereka yang ngotot dengan apa yang mereka percayai, lalu menghina, merendahkan, bahkan menyudutkan kelompok yang berseberangan, juga kita beri julukan bigot.

Tidak heran kalau sekarang muncul istilah bigot ASI, bigot Ahok, bigot atheisme, bigot sekulerisme, bigot adat, bigot vegetarian, bigot…ya ampun, banyak banget ya! Nampaknya semua hal di dunia ini bisa segitu ekstrimnya sampai para bigot-bigot bermunculan.

Sesungguhnya meyakini sesuatu sebagai yang paling baik itu tidak salah, selama hanya diberlakukan pada diri sendiri. Ya nggak? Nilai-nilai yang kita yakini, keputusan-keputusan yang diambil, semuanya adalah hasil pengolahan berbagai data yang kita peroleh. Nah, bagaimana seseorang memproses mengolah informasi hingga menghasilkan keputusan tentu saja sangat personal sekali.

Iya sih, kalau mendengar atau melihat orang yang punya pandangan atau pendapat yang berbeda, ada insting dalam diri kita untuk berkata, “Whaaat?? Nggak salah lu?” Apalagi kalau kita merasa (merasa, meskipun dengan berbagai bukti yang kita pegang) kalau apa yang kita tahu itu lebih baik, lebih waras, lebih apapun lah.

Masalahnya, kita nggak pernah tahu sudah sebanyak apa informasi yang seseorang terima. Kita nggak pernah tahu bagaimana dia memproses informasi yang diterima, dan apakah ada pertimbangan lain yang akhirnya membuat dia mengambil suatu keputusan.

Saya rasa, ketimbang nuding sana, merendahkan di sini, dan menyerang ke mana-mana, yang bisa kita lakukan adalah terus memberikan informasi. Harapannya sih, dengan semakin terpapar informasi, orang-orang akan berpikir.

Soal kemampuan bernalar, mau gimana lagi, toh baik pendidikan di keluarga maupun di sekolah-sekolah kita juga lebih mengedapankan doktrin ketimbang kemampuan bernalar, kan?

Yah, saya rasa, barangkali kita semua berpotensi menjadi bigot. Entah untuk persoalan apa. Agama? Menyusui? Bukti data vs bukti pengalaman? Logika vs perasaan? Entahlah. Mungkin saya sendiri sudah menjadi bigot, atau akan menjadi bigot. Harapan saya, kalau saya jadi (atau sudah) bigot, masih ada yang mengingatkan dan mengajak berdiskusi untuk mengurai kekusutan isi kepala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s