Bentuk Lain Sakaw

Patah hati / kecewa / terluka di awal usia 20-an rupanya sungguh jauh berbeda bila dibandingkan dengan terluka di akhir usia 20-an. Lebih susah pulih, lebih susah move on, dan lebih termenye-menye. Iye, ini pengalaman pribadi. Jadi, sungguh beruntunglah mereka yang masih adem ayem soal luka.

Beberapa bulan yang lalu saya membaca urusan patah hati ini dari rangkaian tweetnya dr. Ryu Hasan (nama akun Twitter beliau, nama aslinya lupa). Rupanya sirkuit otak yang berperan dalam urusan menye-menye seperti jatuh cinta dan patah hati ini ada di sirkuit yang sama dengan adiksi narkoba. Akibatnya, saat patah hati, aliran hormon kebahagiaan menurun drastis, dan sirkuit ini menjerit-jerit kekurangan. Persis seperti keadaan sakaw.

Patah hati di awal usia 20-an rupanya tidak menimbulkan kesakawan seperti yang dirasa sekarang. Sampai akhirnya sadar, “Aing nanaonan, Gusti?!” baru lah ngeh kalau selama ini sudah terlalu terlarut dengan arus menenggelamkan diri sendiri dalam nestapa.

Itulah mengapa sebenarnya penting mengetahui fungsi fisiologis tubuh dan bagaimana tubuh bekerja. Tidak perlu terlalu rinci, toh bukan praktisi kesehatan yang berkepentingan mendalam soal itu. Setidaknya kalau lagi galau mellow marshmallow begini, nggak terlalu terbawa arus. Minimal tau lah kalau arusnya akan membawa ke mana, apa ke neraka, apa ke laut, apa ke kota.

Mengetahui apa yang terjadi di dalam tubuh ketika patah hati juga bisa membantu kita merancang pengobatan yang pas. Punya gebetan baru? Bukan rupanya. Itu hanya melanjutkan level adiksi saja, tidak memutus mata rantai kesesatan. Paling benar memang nasehat orang dulu, makan cokelat, makan es krim, nonton film komedi romantis, nyanyi keras-keras, dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan.

Bagaimana bila kenangan datang menyerang? Sama saja seperti memori buruk lainnya yang selama ini menyerang, bukan? Saya tetap pada pengetahuan yang selama ini sudah dipegang. Bila kenangan datang, alihkan perhatian. Itu berhasil buat saya, entah untuk beberapa orang lain yang serangan kenangan bisa bertubi-tubi. Entah bagi mereka yang memilih tenggelam dalam kenangan.

Ya sudah lah, saya mau makan cokelat dulu yang banyak sama nyari es krim kopi~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s