Lelaki adalah Binatang

Sejak kecil penggambaran tentang lelaki yang saya terima dari orangtua cukup jelek. Apalagi setelah saya menginjak usia remaja, bahkan hingga dewasa muda belia seperti sekarang. Tak jarang terdengar nasehat seperti, “Jangan mau kalau diajak kenalan sama laki-laki. Nanti kamu dihipnotis, lalu diperkosa!” atau “Nggak usah senyum-senyum sama laki-laki, nanti kamu dianggap perempuan gatal.”

Kalau beberapa orang bicara soal sikap gentleman, saya malah bingung. Soalnya ada wejangan seperti ini, “Jangan mau diantar pulang sama laki-laki, nanti kamu diculik, lalu diperkosa! Apa gunanya kamu sebagai perempuan kalau sudah diperkosa?!”

In a way, lelaki terdengar seperti penjahat. Setelah dipikir-pikir lagi, lelaki nampaknya tak jauh berbeda dari binatang. Tahu kan, binatang kalau sedang birahi seperti apa. Tak peduli betina yang mana, semua diterkam. Bukankah begitu? Setidaknya dalam pandangan saya begitu (entah bila nanti ada ahli perilaku binatang yang komentar di bawah dan meluruskan pikiran saya yang bengkok).

Dalam suatu sudut pikiran saya, lelaki tak punya kemampuan untuk menahan diri, tak punya akal yang mampu digunakan untuk berpikir. Sementara perempuan adalah manusia yang utuh karena ia menggunakan akalnya untuk mengatur dirinya demi kesejahteraan sekitarnya. Perempuan dengan seksama berpikir dan mengatur dirinya. Lelaki tidak. Lelaki adalah seonggok daging dengan otak yang hanya menjalankan fungsi dasar. Makan, tidur, lari-lari, dan birahi.

Pikiran itu tercetak dengan tebal dan berbekas begitu dalam. Meskipun selama bertahun-tahun saya berteman dengan banyak lelaki, tapi selalu ada kecurigaan terhadap mereka. Padahal teman lelaki saya (termasuk mantan) baik-baik, kok. Meskipun beberapa ada yang mesum, tapi tidak lantas main terkam atau perkosa anak orang seenak jidat. Sehingga untuk beberapa saat, saya lupa dengan prejudice kalau lelaki adalah binatang.

Pikiran ini muncul kembali beberapa tahun terakhir. Sejak sebagian orang meributkan perihal pakaian dan aurat. Setiap kali seorang perempuan diminta menutup aurat, diminta berpakaian tertutup, selalu diiringi dengan embel-embel supaya dia aman dari kejahatan lelaki, karena dia berperan dalam menjaga hawa nafsu lelaki yang rupanya teramat dahsyat sampai tak bisa dibendung meski hanya melihat ketiak yang terbuka.

Eh salah, bahkan melihat rambut yang tergerai saja, rupanya bisa membuat lelaki kesetanan dan bisa memerkosa! Iya, kan? Bukankah itu yang membuat sebagian orang memaksa perempuan menggunakan jilbab? Demi moralitas sih katanya. Tapi kan kita tau sama tau lah, moralitas yang dimaksud apa. Supaya laki-laki nggak ileran dan birahinya terjaga.

Semakin dilawan dengan pendapat “Bukan perempuan yang perlu menjaga dirinya, tapi lelaki yang harus menjaga sikapnya,’ justru semakin kencang teriakan ‘Perempuan harus menjaga agar lelaki tidak terjerumus dalam perbuatan maksiat.’ Karena pasti yang disalahkan paha perempuan yang terbuka, belahan dada yang keliatan (sedikit padahal), celana ketat, baju menerawang, payudara menyembul, dan sebagainya.

Semakin orang-orang ini berkeras kalau lelaki tak punya self-control yang mumpuni, pikiran bahwa lelaki itu binatang semakin keras menggedor benak saya. Binatang bertindak murni karena naluri, tanpa memikirkan konsekuensi atau kesejahteraan binatang lainnya (kecuali dalam kawanannya saja, bagi binatang yang berkelompok). Bukankah lelaki juga demikian?

Laki-laki adalah binatang. Layaknya binatang di Taman Safari, maka manusia yang mengunjungi tempat tersebut harus berhati-hati dan menggunakan pelindung diri sedemikian rupa agar tidak diterkam. Kaca mobil ditutup. Dilarang mengeluarkan bagian tubuh. Menggunakan pakaian dengan warna-warna alami agar tersamarkan dari pandangan para hewan. Bila perlu sang binatang diberikan pengalih perhatian.

Bila dulu saya merasa orang tua terlalu lebay menakut-nakuti, sekarang saya jadi berpikir ulang. Sepertinya mereka benar. Laki-laki adalah binatang. Buktinya demi menjaga mereka, perempuan diminta menutup ini-itu, bersikap begini-begitu, dan bertutur begana-begono. Persis seperti anjuran masuk Taman Safari atau ke hutan, kan?

Karena kalau laki-laki betul manusia, seharusnya dia bisa menggunakan akalnya. Ada jarak antara birahi dan bertindak untuk memuaskan birahinya. Ada relasi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan. Otaknya (bila laki-laki adalah manusia) harusnya mampu mencerna informasi dan berpikir bagaimana cara memperlakukan manusia lain. Jika lelaki adalah manusia, ia harusnya bisa memanusiakan manusia.

Ketimbang memaksa perempuan begana-begono, bukankah lelaki (jika ia manusia) bercermin pada dirinya sendiri bagaimana ia harusnya bersikap terhadap perempuan? Terlepas dari pakaian, sikap, dan tutur kata si perempuan.

Tapi kan, kenyataannya tidak begitu.

Ini sudah menjelang akhir tahun 2016, laki-laki masih binatang dan sebagian perempuan sibuk memastikan binatang ini tidak terpancing. Sebagian perempuan sibuk menjadikan diri mereka pawang atau penjaga suaka demi memastikan binatang-binatang ini hidup nyaman dan tidak mengganggu keamanan.

Bukankah begitu wahai sebagian perempuan yang sibuk ngurusin dan menceramahi perempuan lainnya yang tidak menutup aurat? Kalian juga lho yang membuat saya makin yakin kalau laki-laki itu binatang. Bahkan saya jadi curiga, apa jangan-jangan kalian akan melahirkan binatang-binatang lainnya ya dengan cara pandang seperti itu? Dan apakah kalian tahu, lantangnya kalian bersuara soal bagaimana perempuan harus bersikap dan berpakaian itu persis sis sis pawang penjaga wahana singa di Taman Safari yang tiba-tiba bilang, “Mobil hitam, tolong kacanya ditutup, jangan dikeluarin tangannya. Mobil merah tolong jangan lempar-lempar makanan ya.”

Saya nggak tahu kapan lelaki akan berevolusi menjadi manusia. Melihat kondisi sekarang, barangkali perlu ribuan tahun lagi agar lelaki berevolusi. Pertanyaannya, jika lelaki adalah binatang, bagaimana dengan makhluk hidup seperti lelaki yang sikapnya baik, mampu berpikir dan menjaga diri serta orang di sekitarnya? Apa ya namanya? Lelaki 2.0?

Advertisements

2 thoughts on “Lelaki adalah Binatang

  1. Wanita diciptakan dari tulang rusuk pria, agar posisi wanita ada di posisi paling dekat dengan hati seorang pria.

    “Woman was created from the rib of man, not from his head to be above him, nor from his feet to be walked upon, but from his side to be equal, near his arm to be protected, and close to his heart to be loved”.

    kalimat di atas adalah kutipan keren yang aku baca dalam sebuah kertas dan diketik oleh almarhumah mama kira-kira 25 tahun lalu. saat itu masih gak paham apa maksudnya, tapi membekas hingga hari ini.

    ironisnya, suami idaman yang membuatku terbayang oleh kutipan itu ternyata gak ada. Atau lebih tepatnya, aku gak menemukan. trauma menghampiri dan juga membekas hingga hari ini.

    bertolak belakang? yah begitulah. di satu sisi, pria adalah binatang karena naluri hewaninya, dan di sisi lain adalah pahlawan impian yang diharapkan bisa menjadi idola sepanjang masa.

    jadi…? 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s