A letter to my future child (if I ever have one or two)

Finally I wrote it… it’s lame but it’s okay. I might never have to deliver this letter anyway. 

Dear anak-anak,
Sebenarnya Ibu geli menulis surat ini, bukan karena sedang dikitik-kitik, tapi sejak dulu Ibu rasa surat-surat begini agak tidak masuk akal. Dan saat usia Ibu bertambah, Ibu juga yakin betul tak akan pernah memiliki kalian. Ya sudah, mari kita kesampingkan dulu kegelian ini, dan Ibu akan berusaha menulis dengan baik menggunakan bahasa yang kira-kira masih akan bertahana melintasi zaman. Kan nggak mungkin Ibu menulis pakai bahasa gaul di zaman Ibu masih muda belia, pasti kalian nggak ngerti nanti.

Di saat kalian membaca ini, mudah-mudahan kalian dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kalau tidak sehat, segera bilang ke Ibu ya, kita ke dokter besok! Ibu sangat berharap bisa (dan telah) membesarkan dan mendidik kalian dengan baik. Ibu berharap kalian menjadi anak-anak yang mandiri dan berani. Berani berpikir. Berani bertindak. Ibu juga berharap kalian sedang menumbuhkan kepercayaan diri kalian. Percaya akan diri sendiri. Percaya dengan nilai yang kalian pegang. Ibu juga berharap kalian semangat belajar. Bukan hanya untuk nilai dan gelar. Karena setiap hari, sampai akhir hayat kita, kita harus belajar. Ibu dan Bapak juga begitu.

Dear Anak-anak,
Ada hari-hari di mana Ibu terlihat lesu dan tak bersemangat, meskipun selalu berusaha bergerak. Nanti Ibu akan ceritakan tentang kondisi itu pada kalian. Terima kasih karena kalian selalu menyemangati Ibu.Kadang-kadang (apa sering?) Ibu tidak sabar dalam menghadapi kalian, untuk itu ibu mohon maaf. Rupanya bersabar itu sulit sekali, tapi yang sulit tentu saja selalu bisa diusahakan.

Dear Anak-anak,
Cukup pembukaannya, rasanya sudah melebihi panjang pembukaan UUD 1945. Ibu ingin bilang pada kalian beberapa hal. Jadilah yang terbaik yang kalian mampu. Lakukan apa pun yang kalian ingin lakukan, asal tidak melanggar aturan dan tidak membahayakan diri sendiri dan orang lain. Belajar. Belajar. Belajar. Jangan pernah berhenti belajar. Tidak apa-apa gagal, Nak, asal kamu tetap mencoba (bisa hal yang sama atau hal yang lain lagi). Apapun yang kamu pilih, bicarakan pada Ibu dan Bapak ya. Mungkin kita bertentangan pendapat, tapi kita akan selalu bisa membicarakannya.

Nak, bila kamu lelah, jangan pernah sungkan atau ragu untuk menghubungi kami. Pulanglah ke rumah dan beristirahatlah di sini. Ibu dan Bapak sangat tahu betapa berartinya pulang, dan betapa merindunya kami akan rumah ketika jiwa dan raga kelelahan. Mengembara itu penuh tantangan, kami yakin kamu bisa melewatinya. Tapi bila merindukan kami, pulanglah. Kami akan selalu menyambutmu.

Dear Anak-anak,
Ibu tak pandai menulis pesan berbunga-bunga. Ibu pandainya merepet sepanjang jalur kereta api dengan volume suara yang sangat nyaring, sampai bisa terdengar ke kabupaten sebelah (Hayooo pada ketawa ya? Ibu juga). Tapi, Ibu sayang kalian. Ibu sangat sayang pada kalian.

Teriring doa dari,

Ibu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s