Yuk, Diskusi

Saya senang bicara. Mau ngomong senang diskusi kok ya kayaknya terlalu ketinggian, padahal saya agak deg2 ser kalau berada di tempat yang tinggi. Topik yang dibicarakan bisa apa saja, mmm kecuali fashion dan musik, karena pengetahuan saya di bidang itu tidak banyak (tapi saya senang mendengarkan orang bicara tentangnya).

Beberapa kali bicara dengan beberapa orang, ada satu hal yang saya tangkap tentang diri saya (kadang nggak ketangkap juga, tapi ditangkap lawan bicara dan dijeplakkan ke jidat saya). Saya tidak sabar dalam bertukar pikiran.

Seringkali saya ingin cepat-cepat sampai pada simpulan sebelum seluruh data terkumpul. Ditambah lagi konsep yang sudah terbentuk di kepala. Ujung-ujungnya saya akan ngotot kalau apa yg dibicarakan bertentangan dengan konsep awal di kepala tadi.

Padahal, saya tahu dalam hal apapun, seluruh data harus dikumpulkan, diperiksa dengan seksama, dibandingkan satu dengan yang lain, baru boleh diambil simpulan.

Tentu saja sulit untuk bisa bersikap seperti itu. Perlu latihan dan pemeriksaan terhadap diri secara terus menerus. Menahan diri untuk tidak menembakkan amunisi konsepsi awal amat susah. Jelas, karena itu sesuatu yang sudah diketahui lebih dulu bahkan mungkin sudah sampai dalam tahap yakin.

Keyakinan digoyang itu kan sama sakitnya dengan pasangan yang ketauan masih mengharapkan mantannya. *bentar, lap darah dulu dari hati yang tercabik* Mengenyampingkan konsepsi awal di pikiran sebenarnya baik untuk memberi ruang bagi informasi-informasi baru.

Pernah dengar confirmation bias atau information bubble kan? Lihatlah kita saat ini, beramai-ramai mencari informasi bukan untuk memperkaya bank data, tapi untuk memperteguh konsepsi awal di kepala. Supaya apa? Supaya bertambah yakin. Karena salah itu tak termaafkan.

Baru-baru ini saya membaca artikel tentang betapa pentingnya keliru dan gagal. Keliru dan gagal justru membentuk diri kita sebagai pembelajar. Bagaimana caranya belajar? Dengan memaparkan diri terhadap berbagai informasi. Memeriksanya satu per satu. Mengambil simpulan sementara. Bila ada informasi baru, diperlakukan seperti sebelumnya. Dan bila dirasa cukup, ambil simpulan akhir.

Masalahnya, perlu upaya yang besar agar bisa berlaku begitu. Rasa ingin benar, rasa tersinggung, ego, dan lain-lain dan yang bukan-bukan begitu bersemi dalam diri, bak bunga di taman yang dirawat petugas dinas tata kota. Tapi, kita bisa. Kita pasti bisa, perlahan. Awal-awal akan sangat sulit (seperti yang saya sedang alami), namun nanti akan lebih mudah.

Selain upaya, yang kita perlukan juga kelapangan dan kelembutan hati. Ah, satu lagi, kejernihan pikiran. Agar ilmu bisa sampai.

Eh sudah dulu ya. Ngelamun di tempat cuci mobil harus disudahi. Sampai jumpa.

*dadah-dadah mempesona

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s